
sawitsetara.co - PADANG – Kelapa sawit tidak hanya menjadi andalan bagi pemerintah pusat melalui ekspor crude palm oil (cpo) dan turunannya, tapi juga menjadi andalan bagi beberapa provinsi sentra tanaman kelapa sawit termasuk diantaranya di Sumatera Barat (Sumbar).
Hal tersebut dibenarkan oleh PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP nonpetikemas) cabang Teluk Bayur, Kota Padang dimana pihaknya masih mengandalkan ekspor CPO. Berdasarkan catatannya, pada 2025 CPO yang diekspor lewat PTP nonpetikemas cabang Teluk Bayur mencapai 3.151.458 ton
Selain minyak kelapa sawit mentah, anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Persero tersebut juga mencatat sembilan komoditas unggulan yang diekspor ke sejumlah negara, serta untuk melayani kebutuhan dalam negeri lewat pelabuhan setempat.
“Komoditas tersebut yakni cangkang dengan total ekspor 576.290 ton dimana negara tujuan utama Korea dan Jepang. Kemudian bungkil inti sawit atau palm kernel expeller sebesar 238.360 ton, batu bara 202.210 ton, pupuk bag 184.988 ton,” papar Branch Manager PTP nonpetikemas cabang Teluk Bayur Fauzi di Kota Padang, Kamis (16/4/2026).

Sekedar catatan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) luas perkebunan kelapa sawit di Sumbar pada tahun 2024 mencapai sekitar 256.300 hektar (ha), dengan pusat perkebunan tersebar di Pasaman Barat, Pesisir Selatan, dan Dharmasraya. Lahan ini didominasi oleh perkebunan rakyat.
Sebelumnya Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pun mengungkapkan bahwa total ekspor tahun 2025 mencapai 32.343 ribu ton, lebih tinggi 9,51% dari ekspor tahun 2024 sebesar 29.535 ribu ton.
“Peningkatan ekspor terbesar terjadi pada minyak sawit olahan yang naik menjadi 22.727 ribu ton dari 20.451 ribu ton pada tahun sebelumnya, diikuti oleh olahan minyak inti sawit yang naik menjadi 1.560 ribu ton dari 1.262 ribu ton, oleokimia naik menjadi 5.076 ribu ton dari 4.796 ribu ton, dan CPO yang naik menjadi 2.964 ribu ton dari 2.916 ribu ton,” papar Mukti.

Mukti juga menguraikan, menurut negara tujuannya, peningkatan ekspor pada tahun 2025 dari tahun sebelumnya antara lain Afrika ( +991 ribu ton), China (+644 ribu ton), Malaysia (+516 ribu ton), Bangladesh ( +503 ribu ton), dan Pakistan (+214 ribu ton). Sedangkan penurunan ekspor terjadi untuk tujuan India (-859 ribu ton), EU 27 (-97 ribu ton) dan USA (-15 ribu ton).
Nilai ekspor yang dicapai pada tahun 2025 adalah USD 35,87 miliar (sekitar Rp 590 triliun), yang lebih tinggi 29,23% dari ekspor tahun 2024 sebesar USD 27,76 miliar (sekitar Rp 440 triliun). Peningkatan nilai ekspor terjadi selain karena meningkatnya volume ekspor juga karena harga rata-rata cif Rotterdam tahun 2025 sebesar USD 1.221/ton lebih tinggi dari harga rata-rata tahun 2024 sebesar USD 1.084/ton.
"Dengan produksi, konsumsi dan ekspor seperti dipaparkan di atas, stok akhir CPO dan PKO tahun 2025 sebesar 2.068 ribu ton yang lebih rendah -19,79 persen dari stok akhir 2024 sebesar 2.577 ribu ton," pungkas Mukti.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *