
sawitsetara.co - Harga minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali melemah pada perdagangan Rabu (23/9/2026), memperpanjang tren penurunan menjadi empat sesi berturut-turut. Namun, memasuki perdagangan Kamis (24/9/2026), harga CPO mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan.
Kontrak acuan CPO ditutup di level MYR4.768 per ton pada Rabu, turun 42 ringgit atau 0,87% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya yang berada di level RM4.810 per ton.
Penurunan tersebut membuat harga CPO terkoreksi sekitar 3,4% dalam empat sesi perdagangan, dari RM4.936 per ton pada 17 September menjadi MYR4.768 per ton pada 23 September.
Jika dihitung sejak awal September, harga CPO telah turun sekitar 4,1% dari posisi RM4.973 per ton.
Namun, tekanan tersebut mulai sedikit mereda pada perdagangan Kamis pagi. Berdasarkan data Refinitiv yang diakses pukul 09.00 WIB, harga CPO tercatat berada di RM4.793 per ton, atau naik sekitar 0,52% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan harga CPO masih dibayangi potensi lonjakan stok minyak sawit Malaysia. Pasar memperkirakan persediaan CPO Malaysia berpotensi menembus 3 juta ton pada akhir September.
Kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari pola produksi sawit Malaysia yang biasanya memasuki periode puncak pada September-Oktober. Pada Agustus lalu, persediaan minyak sawit Malaysia telah meningkat menjadi lebih dari 2,8 juta ton, sekaligus menjadi level tertinggi sepanjang tahun ini.
Masalahnya, peningkatan produksi tersebut belum sepenuhnya diimbangi oleh permintaan.
Pembelian dari sejumlah pasar utama, termasuk India, China, dan Pakistan, masih relatif lemah. Kondisi ini membuat tambahan pasokan berisiko kembali meningkatkan persediaan dan memberikan tekanan terhadap harga CPO.
Di tengah tekanan pasokan, sentimen positif datang dari India. Negara tersebut merupakan salah satu konsumen minyak nabati terbesar dunia.
Pemerintah India memangkas bea masuk sejumlah minyak nabati, termasuk minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menekan harga minyak nabati domestik menjelang musim festival.
Untuk crude palm oil (CPO) dan minyak kedelai mentah, bea masuk dasar dipangkas menjadi 5% dari sebelumnya 10%.
Setelah memperhitungkan pungutan lainnya, total bea masuk CPO mentah turun menjadi 11% dari sebelumnya 16,5%.
Pemangkasan tarif ini berpotensi mendorong kembali aktivitas impor India. Sebelumnya, pelaku industri cenderung menahan pembelian sambil menunggu kepastian mengenai kebijakan tarif tersebut.
Dengan tarif yang lebih rendah, impor diperkirakan kembali meningkat untuk memenuhi kebutuhan selama musim festival yang berlangsung pada September-November.
India sendiri memenuhi hampir dua pertiga kebutuhan minyak nabatinya melalui impor, dengan pasokan antara lain berasal dari Indonesia dan Malaysia.
Jika pembelian India meningkat, kondisi tersebut berpotensi memberikan tambahan dukungan terhadap permintaan CPO.
Bagi Indonesia, kebijakan India tersebut membuka peluang bagi peningkatan ekspor minyak sawit ke salah satu pasar utama komoditas sawit dunia.
Peluang tersebut semakin terbuka apabila konsumsi minyak nabati India meningkat selama musim festival. Eksportir Indonesia berpotensi memperoleh tambahan permintaan, terutama jika harga CPO tetap kompetitif dibandingkan minyak kedelai dan minyak bunga matahari.
Meski demikian, peluang tersebut tidak serta-merta menjamin lonjakan permintaan CPO. Pergerakan harga tetap akan dipengaruhi oleh persaingan dengan minyak nabati lainnya.
India diketahui memangkas tarif minyak bunga matahari dalam besaran yang lebih besar. Kebijakan ini membuat minyak bunga matahari menjadi lebih kompetitif dan berpotensi menggeser sebagian permintaan terhadap minyak sawit.
Dari sisi teknikal, harga CPO masih menghadapi risiko tekanan lebih lanjut. Analis komoditas Reuters Wang Tao memperkirakan harga CPO berpotensi kembali menguji level support MYR4.732 per ton.
Apabila level tersebut ditembus, harga CPO berpeluang bergerak turun menuju kisaran RM4.677-RM4.711 per ton.
Sebaliknya, resistance terdekat berada di level MYR4.799 per ton. Jika mampu menembus level tersebut, harga CPO berpeluang melanjutkan penguatan menuju kisaran MYR4.820-RM4.840 per ton.
Dengan harga CPO pada Kamis pagi berada di sekitar MYR4.793 per ton, posisi tersebut sudah sangat dekat dengan resistance pertama.
Namun, peningkatan produksi dan tingginya persediaan minyak sawit Malaysia masih menjadi faktor utama yang membatasi ruang penguatan harga CPO dalam jangka pendek.
Dengan demikian, pasar CPO kini berada di antara dua sentimen yang berlawanan: potensi kenaikan permintaan dari India setelah pemangkasan tarif dan tekanan pasokan akibat meningkatnya produksi serta stok Malaysia. Pergerakan harga selanjutnya akan sangat bergantung pada seberapa kuat permintaan India mampu mengimbangi tambahan pasokan sawit di pasar.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *