KONSULTASI
Logo

BMKG Prediksi Hujan di Sentra Sawit Cenderung di Bawah Normal hingga Oktober 2026

22 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
BMKG Prediksi Hujan di Sentra Sawit Cenderung di Bawah Normal hingga Oktober 2026

sawitsetara.co - JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah sentra perkebunan kelapa sawit Indonesia akan menghadapi curah hujan rendah hingga menengah pada periode Agustus-Oktober 2026. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pertumbuhan tanaman sawit di sejumlah wilayah.

Dalam Buletin Informasi Iklim Perkebunan Komoditas Sawit edisi Juli 2026, BMKG menyebut wilayah Indonesia secara umum diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah pada tiga bulan mendatang.

Kondisi tersebut juga terjadi di wilayah sentra sawit. BMKG memprakirakan curah hujan di kawasan sentra perkebunan kelapa sawit umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah.

“Pada bulan Agustus hingga Oktober 2026 mendatang, wilayah khusus sentra sawit diprediksi umumnya mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah,” demikian keterangan dalam buletin BMKG.

Wilayah sentra sawit yang menjadi perhatian mencakup Aceh, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Apj

Agustus, 71,55 Persen Wilayah Indonesia Hujan Rendah

Secara nasional, BMKG memprediksi 71,55 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah pada Agustus 2026, yakni sekitar 1-100 milimeter per bulan. Sebanyak 28,31 persen wilayah diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah, sementara 0,14 persen wilayah diprakirakan mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi.

Pada September 2026, sebanyak 77,46 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan rendah. Sebanyak 21,26 persen berada pada kategori menengah dan 1,28 persen diprediksi mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi.

Sementara pada Oktober, pola hujan diprakirakan mulai meningkat. Sebanyak 42,20 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan rendah, 52,33 persen kategori menengah, serta 5,47 persen wilayah mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi.

Hujan Bawah Normal Mendominasi

Selain curah hujan yang cenderung rendah, BMKG juga memprediksi sifat hujan di wilayah Indonesia pada periode Agustus-Oktober 2026 didominasi kategori Bawah Normal hingga Normal.

Pada Agustus, sebanyak 86,08 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami hujan yang lebih kering dibandingkan kondisi normalnya atau Bawah Normal. Sebanyak 12,22 persen wilayah diprediksi mengalami hujan Normal dan 1,70 persen diprakirakan mengalami hujan Atas Normal.

Kondisi serupa diprediksi berlanjut pada September. Sebanyak 87,61 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami hujan Bawah Normal, 10,01 persen Normal, dan 2,38 persen Atas Normal.

Pada Oktober, sebanyak 81,24 persen wilayah diprediksi mengalami hujan Bawah Normal, 16,90 persen Normal, dan 1,86 persen Atas Normal.

Khusus wilayah sentra sawit, sifat hujan pada periode Agustus-Oktober 2026 diprediksi berada pada kategori Bawah Normal hingga Atas Normal. BMKG menyebut sifat hujan Bawah Normal berpotensi terjadi di sebagian Aceh, bagian selatan Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Apj

Pertumbuhan Sawit Berpotensi Tidak Optimal

BMKG mengingatkan curah hujan rendah, yakni kurang dari 100 milimeter per bulan, dapat menyebabkan pertumbuhan kelapa sawit tidak optimal.

Dalam rekomendasi khusus untuk perkebunan sawit, BMKG menyebut kondisi tersebut berpotensi terjadi di sebagian Aceh, Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Bagi perkebunan sawit, kondisi hujan yang lebih rendah dari normal perlu menjadi perhatian karena ketersediaan air berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan produktivitas kebun. Petani dan pengelola perkebunan juga perlu memantau kondisi kelembapan tanah serta potensi periode tanpa hujan yang lebih panjang.

Dengan demikian, periode Agustus hingga Oktober 2026 perlu diantisipasi sebagai fase dengan potensi tekanan hidrometeorologi berupa kondisi lebih kering di sejumlah sentra sawit, terutama pada wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan rendah dan sifat hujan Bawah Normal.

BMKG menekankan informasi iklim perlu diperbarui secara berkala karena prakiraan dapat berubah mengikuti perkembangan dinamika atmosfer dan laut.


Berita Sebelumnya
Harga TBS Sawit Plasma Papua Barat Juli 2026 Capai Rp3.128 per Kilogram

Harga TBS Sawit Plasma Papua Barat Juli 2026 Capai Rp3.128 per Kilogram

Pemerintah Provinsi Papua Barat menetapkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani plasma untuk wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya pada Juli 2026.

21 Juli 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *