
sawitsetara.co - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) semakin serius mendorong transisi energi dengan mematangkan skema harga biodiesel 50% (B50). Program ambisius ini ditargetkan mulai berjalan pada 1 Juli 2026 dan digadang-gadang mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa penetapan harga B50 akan mengacu pada formula yang telah diatur dalam regulasi yang berlaku. Harga tersebut nantinya akan diumumkan secara berkala setiap bulan guna memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan konsumen.
“Mengikuti formula. Kalau itu mengikuti formula, tiap bulan kita keluarkan harganya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini pemerintah masih melakukan penghitungan mendalam terkait komponen utama biodiesel, yakni Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Proses ini dilakukan bersama Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi untuk memastikan akurasi proyeksi hingga akhir tahun.
“Kita sedang berhitung dengan Dirjen Migas karena prediksi hingga Desember perlu diklarifikasi, termasuk potensi penghematan dan dinamika harga minyak,” tambahnya.

Dari sisi manfaat, implementasi B50 diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang signifikan, terutama dalam meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO). Selain itu, kebijakan ini juga berpotensi menekan ketergantungan impor energi secara drastis.
Data Kementerian ESDM mencatat, program B50 dapat menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun pada 2026. Angka ini meningkat dibandingkan target penghematan pada program B40 yang berada di kisaran Rp140 triliun.
Terkait kesiapan bahan baku, Eniya optimistis pasokan FAME dalam negeri masih mencukupi untuk mendukung implementasi tahap awal.
“Pasokan terus kita hitung, tapi prediksi saya cukup,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan implementasi awal B50 dilakukan pada Juli 2026 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian energi global. Saat ini, serapan biodiesel di dalam negeri telah mencapai sekitar 25%, dan angka tersebut diharapkan meningkat signifikan seiring berjalannya program B50.
Dengan langkah ini, Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam mengoptimalkan potensi energi terbarukan berbasis sawit sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *