
sawitsetara.co - MERANGIN – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Merangin mengambil peran sebagai mediator dalam agenda pertemuan antara Koperasi Perkasa Nalo Tantan (KPNT) dan PT Agrindo Indah Persada (AIP), Jumat (13/2/2026).
Pertemuan tersebut membahas adanya selisih harga tandan buah segar (TBS) yang diterima KPNT dibandingkan dengan harga penetapan Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jambi.
Ketua DPD APKASINDO Merangin, Joko Wahyono, menjelaskan bahwa agenda tersebut pada dasarnya difokuskan untuk mencari titik temu terkait rujukan harga, apakah akan mengacu pada ketetapan Kementerian Pertanian (Kementan)/Permentan atau mengikuti harga Disbun Provinsi Jambi.
“Yang punya ide untuk mengacu ke Kementan atau ke Permentan itu justru dari pihak PT AIP, setelah ada komplain dari KPNT. Jadi sebenarnya itu sudah ada itikad untuk menyamakan persepsi,” ujar Joko saat dihubungi sawitsetara.co.

Namun dalam pelaksanaannya, pembahasan tidak berjalan sesuai fokus awal. Rapat justru melebar ke isu lain di luar substansi harga.
“Dalam pembahasan malah melebar ke mana-mana, ke soal loading dan sebagainya. Ada yang menyebut loading dari pihak KPNT itu ilegal. Jadi tidak terfokus lagi pada pembahasan harga ISPO tadi. Yang mau mengacu ke Permentan atau harga Disbun akhirnya buyar,” katanya.
Selisih Harga Meski Sudah ISPO
KPNT diketahui telah mengantongi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan menjual TBS ke PT AIP. Namun dalam praktiknya, harga yang diterima belum sepenuhnya mengikuti ketetapan Disbun.
Menurut Joko, salah satu faktor yang mengemuka dalam diskusi adalah komposisi buah sawit dari KPNT. Dari sisi perusahaan, kadar buah jenis tenera dinilai lebih rendah dibandingkan dura. Padahal, komposisi tersebut sangat memengaruhi rendemen minyak dan harga beli.
“Dari pihak perusahaan, hasil tenera dinilai tipis dibanding dura. Karena mayoritas buah yang masuk dari KPNT ini berasal dari petani swadaya. Berbeda dengan koperasi plasma seperti Koperasi/Gapoktan Tanjung Sehati yang komposisinya bagus, dura rendah dan tenera tinggi,” jelasnya.
APKASINDO Tegaskan Posisi Mediasi
Dalam polemik tersebut, Joko menegaskan bahwa APKASINDO hadir sebagai penengah, bukan sebagai pembela salah satu pihak.
“Kami ini tidak bisa membela perusahaan, tapi juga tidak bisa langsung membela KPNT. Kami berdiri di penguatan petani, tapi harus objektif. Harus dicek dulu kebenarannya, apakah persoalannya di petani, di supplier, atau di sistem rendemen perusahaan,” tegasnya.
Joko menyatakan secara tegas bahwa dirinya mendukung jika harga TBS mengacu pada ketetapan pemerintah. “Saya sangat setuju mengacu ke Kementan atau ke harga Disbun. Saya setuju itu,” ujarnya.
Ia menilai, secara umum terdapat etiket baik dari pihak perusahaan untuk mencari solusi. Namun situasi menjadi kurang kondusif karena agenda melebar dan tidak lagi fokus pada substansi harga.
Ia menambahkan, DPD APKASINDO Merangin akan membela supplier yang benar dan patuh terhadap ketentuan Permentan. “Kalau supplier itu benar dan ikut aturan Permentan, tentu akan kami bela. Prinsip kami jelas, sepanjang sesuai regulasi dan tidak merugikan petani, kami dukung,” tegas Joko.
Minta Disbun Turun ke Lapangan
Sebagai bagian dari mediasi, APKASINDO juga meminta Dinas Perkebunan Provinsi Jambi tidak hanya menetapkan harga melalui Tim Pokja Penetapan Harga TBS, tetapi turut melakukan verifikasi lapangan.
“Saya minta setelah penetapan harga, tim turun cek kebenarannya. Jangan hanya berdasarkan laporan. Pemerintah sebagai pemegang Permentan harus siap mengawal ini,” tegas Joko.
Ia bahkan mengusulkan agar pengawasan dilakukan lebih aktif, agar tidak muncul kesan hanya organisasi petani yang bersuara.
“Jangan APKASINDO saja yang teriak-teriak. Harus dibackup Disbun. Kalau pemerintah tidak turun, ya percuma,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Joko berharap kemitraan antara KPNT dan PT AIP tetap terjaga dan persoalan ini tidak berujung pada konflik berkepanjangan, termasuk somasi yang sempat dilayangkan.
“Ini sudah mitra. Ada persoalan tidak perlu somasi. Duduk bersama saja. Kita bina, kita perbaiki kualitas, supaya ISPO ini berjalan baik dan harga juga jelas,” ujarnya.
APKASINDO, lanjutnya, akan terus berperan sebagai mediator, pengawas, sekaligus penguat posisi petani, dengan tetap menjaga objektivitas.
“Kami tetap berdiri untuk penguatan petani. Tapi semuanya harus dicek kebenarannya. Supaya ke depan kondusif dan tidak ada polemik lagi,” tutupnya.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *