
sawitsetara.co - Sebanyak 150 mahasiswa baru Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta resmi memulai pendidikan tinggi melalui program Beasiswa Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDM PKS) Tahun Akademik 2026/2027.
Beasiswa tersebut merupakan dukungan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kementerian Keuangan dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul untuk memperkuat masa depan industri kelapa sawit nasional.
Para penerima beasiswa menjadi bagian dari 1.135 mahasiswa baru INSTIPER pada Tahun Akademik 2026/2027. Jumlah tersebut terdiri atas 1.058 mahasiswa program sarjana dan 77 mahasiswa pascasarjana, atau meningkat 20,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kehadiran 150 mahasiswa penerima Beasiswa SDM PKS menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu bagian penting dalam keberlanjutan industri sawit Indonesia. Pendidikan tinggi di bidang perkebunan diharapkan mampu membekali generasi muda dengan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Harsawardana, M.Eng., mengatakan INSTIPER memiliki posisi kuat melalui kompetensi inti di bidang perkebunan dan kehutanan yang telah dibangun selama ini.
“Selamat datang di Kampus INSTIPER yang kita banggakan. Kalian berada di tempat yang tepat untuk mempersiapkan masa depan. INSTIPER Yogyakarta merupakan perguruan tinggi yang telah dipercaya untuk mencetak sumber daya manusia unggul yang siap memasuki dunia kerja dan dunia industri,” ujarnya dalam Pembukaan Kuliah Tahun Akademik 2026/2027 di Grha INSTIPER, Yogyakarta.
Menurut Harsawardana, kepercayaan pemerintah dan berbagai mitra terhadap INSTIPER sekaligus menjadi tanggung jawab kampus untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan kompetensi mahasiswa.
“Kepercayaan dari berbagai mitra tersebut merupakan bukti dari kerja sama yang telah terbangun sekaligus menjadi tanggung jawab INSTIPER untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan kompetensi mahasiswa,” lanjutnya.
Selain Beasiswa SDM PKS, dukungan pengembangan SDM INSTIPER juga datang dari berbagai perusahaan perkebunan dan pemerintah. PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), misalnya, tahun ini mengirimkan 35 mahasiswa penerima beasiswa untuk menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Kehutanan. Program beasiswa RAPP tersebut telah berjalan selama 16 tahun.
Dukungan lainnya berasal dari Asian Agri Group untuk 13 mahasiswa, Karyamas Plantation 59 mahasiswa, PT London Sumatra Indonesia 20 mahasiswa, PT Bumitama Gunajaya Agro 9 mahasiswa, Mahitala Ingkeng Gemah 2 mahasiswa, Pemerintah Kabupaten Ngada 5 mahasiswa, serta 36 mahasiswa melalui program KIP Kuliah.
Secara keseluruhan, sebanyak 329 mahasiswa baru INSTIPER atau sekitar 29 persen dari total mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027 merupakan penerima beasiswa.
Pengembangan SDM perkebunan tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran akademik. INSTIPER juga memperkuat kompetensi mahasiswa agar mampu menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang semakin dinamis.
Salah satu kompetensi yang menjadi perhatian adalah Higher Order Thinking Skills (HOTS), yang diperkuat melalui pengembangan kemampuan 6C, yakni Communication, Collaboration, Critical Thinking, Creative Thinking, Computational Logic, dan Compassion.
Kemampuan tersebut diharapkan melengkapi kompetensi mahasiswa, baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler, sehingga lulusan memiliki kesiapan lebih baik untuk memasuki dunia kerja dan dunia industri.
Penguatan kompetensi tersebut juga dilakukan melalui INSTIPER Academy, program pendamping kurikulum yang memberikan berbagai pelatihan intensif untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa di luar pembelajaran kurikuler.
Dalam pembukaan Tahun Akademik 2026/2027, mahasiswa baru INSTIPER juga mendapatkan kuliah umum dari Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Puji Lestari, Ph.D.
Kuliah umum bertajuk “Peranan Riset dan Inovasi dalam Meningkatkan Daya Saing Produk Perkebunan” tersebut menekankan pentingnya riset dan inovasi dalam menghadapi tantangan industri perkebunan.
Puji mengatakan berbagai komoditas perkebunan, termasuk kelapa sawit, kakao, kopi, kelapa, sagu, pinang, lada, dan tembakau memiliki peran penting bagi Indonesia.
“BRIN berkomitmen untuk mendukung riset dan inovasi untuk menghasilkan produk perkebunan nasional yang berdaya saing dari on farm hingga hilirisasi. Kita dorong peningkatan produktivitas, mutu, efisiensi, nilai tambah, hingga akses pasar,” jelasnya.
Bagi 150 mahasiswa penerima Beasiswa SDM PKS, pendidikan di INSTIPER menjadi bagian dari proses mempersiapkan generasi baru yang tidak hanya memahami budidaya kelapa sawit, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan industri melalui teknologi, riset, inovasi, dan hilirisasi.
Mahasiswa baru INSTIPER tahun akademik 2026/2027 sendiri berasal dari 28 provinsi di Indonesia. Sumatera Utara menjadi daerah asal mahasiswa dengan jumlah terbanyak, disusul Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Jawa Tengah.
Setelah mengikuti pembukaan kuliah dan kuliah umum, seluruh mahasiswa baru akan mengikuti Orientasi Kampus dan Kenal Kebun (OKKABUN) pada 31 Agustus–9 September 2026. Kegiatan Kenal Kebun juga akan berlangsung di KP2 Ungaran pada 5–7 September 2026.
Melalui rangkaian pendidikan tersebut, INSTIPER menargetkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga karakter, keterampilan dan kesiapan memasuki dunia usaha serta industri, khususnya sektor perkebunan, kehutanan dan agroindustri.
Program Beasiswa SDM PKS pun menjadi salah satu bagian strategis dalam membangun ekosistem SDM sawit yang berkelanjutan. Dengan semakin banyaknya generasi muda yang memperoleh akses pendidikan tinggi di bidang perkebunan, industri sawit diharapkan memiliki tenaga profesional yang mampu meningkatkan produktivitas, daya saing, serta nilai tambah komoditas sawit Indonesia.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *